Penanganan Kegawatdaruratan pada Partus Lama dan Rujukan




BAB II
PEMBAHASAN

 1. Definisi Partus Lama
           Istilah partus lama, ada juga yang menyebutnya dengan partus kasep dan partus terlantar. Persalinan pada primi biasanya lebih lama 5-6 jam dari pada multi. Bila persalinan berlangsung lama, dapat mmenimbulkan kompilikasi-komplikasi baik terhadap ibu maupun terhadap anak, dan dapat meningkatkan angka kematian ibu dan anak.
            Partus lama adalah persalinan yang berlangsung lebih dari 24 jam pada primi, dan lebih dari 18 jam pada multi.
           Partus kasep menurut Harjono merupakan fase terakhir dari suatu partus yang macet dan berlangsung terlalu lama sehingga timbul gejala-gejala seperti dehidrasi, infeksi, kelelahan ibu, serta asfiksi dan Kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK).
Partus lama adalah persalinan dengan tidak ada penurunan kepala > 1 jam untuk nulipara dan multipara. (Sarwono, 2008)
         Sebagian besar partus lama menunjukan pemanjangan kala I. Adapun yang menjadi penyebabnya yaitu, serviks gagal membuka penuh dalam jangaka waktu yang layak. (Harry, 2010)
      Harus pula kita bedakan dengan partus tak maju, yaitu suatu persalinan dengan his yang adekuat yang tidak menunjukkan kemajuan pada pembukaan serviks, turunnya kepala dan putaran paksi selama 2 jam terakhir.

 2. Etiologi Partus Lama
Faktor-faktor penyebab antara lain :
1. Faktor janin (malpresentasi, malposisi, janin besar)
Malpresentasi adalah semua presentasi janin selain vertex (presentasi bokong, dahi, wajah, atau letak lintang). Malposisi adalah posisi kepala janin relatif terhadap pelvis dengan oksiput sebagai titik referensi. Janin yang dalam keadaan malpresentasi dan malposisi kemungkinan menyebabkan partus lama atau partus macet.
2. Kelainan-kelainan panggul dapat disebabkan oleh : gangguan pertumbuhan, penyakit tulang dan sendi, penyakit kolumna vertebralis, kelainan ektremitas inferior. Kelainan panggul dapat menyebabkan kesempitan panggul.
3. Faktor lain (predisposisi)
ü Paritas dan interval kelahiran
ü Ketuban pecah dini
4. Kelainan his
His yang tidak normal dalam kekuatan atau sifatnya menyebabkan kerintangan pada jalan lahir yang lazin terdapat pada setiap persalinan, tidak dapat diatasi sehingga persalinan mengalami hambatan atau kemacetan

3. Gejala Klinik Partus Lama
1. Pada ibu
Gelisah, letih, suhu badan meningkat, berkeringat, nadi cepat, pernafasan cepat, dan meteorismus. Di daerah lokal sering dijumpai lingkaran Bandle tinggi, edema vulva ,edema serviks, cairan ketuban berbau, terdapat mekonium.
2. Pada bayi
Denyut jantung janin cepat/hebat/tidak teratur, bahkan negatif.
Air ketuban terdapat mekonium, kental kehijauan, berbau, Caput sucsadaneum yang besar, kematian Janin Dalam Kandungan (KJDK), kematian Janin Intra Partal (KJIP).

4. Tanda Dan Gejala Partus Lama
1. Ibu tampak kelelahan dan lemah.
2. Kontraksi tidak teratur tetapi kuat.
3. Dilatasi serviks lambat atau tidak terjadi.
4. Tidak terjadi penurunan bagian terbawah janin, walaupun kontraksi adekuat.
5. molding  sutura tumpang tindih dan tidak dapat diperbaiki.

 5. Akibat Partus Lama
Ibu:
Akibat untuk ibu adalah penurunan semangat, kelelahan, dehidrasi, asidosis, infeksi dan resiko ruptura uteri. Perlunya intervensi bedah meningatkan mortalitas dan morbiditas. Ketoasidosis dengan sendirinya dapat mengakibatkan aktivitas uterus yang buruk dan memperlama persalinan.
Janin:
Akibat untuk janin meliputi trauma, asidosis, kerusakan hipoksik, infeksi dan peningkatan mortalitas serta morbiditas perinatal.

6. Penanangan Rujukan Partus Lama/Macet
Tujuan
Mengetahui dengan segera dan penanganan yang tepat keadaan darurat pada partus lama/ macet

Pernyataan Standar
Bidan mengenali secara tepat dan dini tanda dan gejala partus macet. Bidan akan mengambil tindakan yang tepat, memulai perawatan, merujuk ibu dan/melaksanakan penanganan kegawatdaruratan yang tepat.

Hasil
1. Mengenali secara dini gejala dan tanda partus lama serta tindakan yang tepat
2. Penggunaan partograf secara tepat dan seksama untuk semua ibu dalam proses persalinan
3. Penurunan kematian/kesakitan ibu/bayi akibat partus lama
4. Ibu mendapat perawatan kegawatdaruratan obstetric yang cepat dan tepat

Prasyarat
1. Bidan dipanggil jika ibu sudah mulai mulas/ketuban pecah
2. Bidan sudah dilatih dengan tepat dan terampil untuk :
3. menggunakan partograf dan catatan persalinan
4. melakukan periksa dalam secara baik
5. mengenali hal-hal yang menyebabkan partus lama/macet
6. mengidentifikasi presentasi abnormal (selain vertex/presentasi belakanag kepala) kehamilan
7. penatalaksanaan penting yang tepat untuk partus lama dan macet
8. Tesedianya alat untuk pertolongan persalinan DTT termasuk beberapa pasang sarung tangan dan kateter steril/DTT
9. Tersedianya perlengkapan untuk pertolongan persalinan yang bersih dan aman, seperti air bersih yang mengalir, sabun dan handuk bersih, dua handuk/kain hangat yang bersih (satu untuk mengeringkan bayi, yang lain untuk dipakai kemudian), pembalut wanita, dan tempat plasenta. Bidan menggunakan sarung tangan.
10. Tersedianya partograf dan Kartu Ibu, buku KIA. Partograf digunakan dengan tepat untuk setiap ibu dalam proses persalinan, semua perawatan dan pengamatan dicatat tepat waktu. Tindakan tepat diambil sesuai dengan temuan yang dicatat pada parograf

Proses
Bidan harus :
1. Memantau dan mencatat secara berkala keadaan ibu dan janin, his dan kemajuan persalinan pada partograf dengan cermat pada saat pengamatan dilakukan.
2. Jika terdapat penyimpangan dalam kemajuan persalinan (misalnya garis waspada pada partogaraf tercapai, his selalu kuat/cepat/lemah sekali, nadi melemah dan cepat, atau DJJ menjadi cepat/tidak teratur/lambat), maka palpasi uterus dengan teliti untuk mendeteksi gejala-gejala dan tanda lingkaran retraksi patologis/lingkaran Bandl.
3.  Jaga agar ibu mendapat hidrasi yang baik selama proses persalinan, anjurkan ibu agar sering minum.
4. Menganjurkan ibu untuk berjalan-jalan dan merubah posisi selama proses persalinan dan kelahiran. Jangan biarkan ibu berbaring terlentang selama proses persalinan dan kelahiran.
5. Mintalah ibu sering buang air kecil selama proses persalinan (sedikit setiap 2 jam). Kandung kemih yang penuh akan memperlambat penurunan bayi dan membuat ibu tidak nyaman. Pakailah kateter hanya bila ibu tidak bisa kencing sendiri dan kandung kemih dapat dipalpasi. Hanya gunakan kateter dari karet. (Hati-hati bila memasang kateter, sebab uretra mudah teluka pada partus lama/macet).
6. Amati tanda-tanda partus macet dan lama dengan melakukan palpasi abdomen, menilai penurunan janin, dan periksa dalam, menilai penyusupan janin  dan  pembakaan serviks paling sedikit tiap 4 jam selama fase laten dan aktif persalinan. Catat semua temuan pada partograf. Lihat standar 9 untuk melihat semua pengmatan yang diperlukan untuk partograf.
7.  Selalu amati tanda-tanda gawat ibu atau gawat janin, rujuk dengan cepat dan tepat jika hal ini terjadi
8. Tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir  kemudian keringkan hingga betul-betul kering dengan handuk bersih setiap kali sebelum dan sesudah melakukan kontak dengan pasien. (Kuku harus dipotong pendek dan bersih). Gunakan sarung tangan DTT/steril untuk semua periksa dalam. Selalu menggukan teknik aseptik pada saat melakukan periksa dalam.

Periksa dengan teliti vagina dan kondisinya (jika vagina panas/gejala infeksi dan kering/gejala ketuban minimal, maka menunjukkan ibu dalam keadaan bahaya).
Periksa juga letak janin, pembukaan serviks serta apakah serviks tipis, tegang atau mengalami edema. Coba untuk menentukan posisi dan derajat penurunan kepala.
Jika ada kelainan atau bila garis waspada pada partograf dilewati persiapan rujukan yang tepat.
a) Rujuk dengan tepat untuk fase laten persalinan yang memanjang (0-4 cm): berlangsung lebih dari 8 jam.
b) Rujuk dengan tepat untuk fase aktif persalinan yang memenjang, pembukaan kurang dari  cm/jam dan garis waspada pada partograf yang telah dilewati.
c) Rujuk dengan tepat untuk kala II persalinan yang memanjang:
jam meneran untuk primipara
jam meneran untuk multipara

9. Jika ada tanda dan gejala persalinan macet,gawat janin,atau tanda bahaya pada ibu,maka ibu dibaringkan miring kesisi kiri dan berikan cairan IV (Ringer Laktat).
10. Rujuk segera kerumah sakit. Didampingi ibu untuk menjaga agar keadaan ibu tetap baik. Jelaskan kepada ibu, suami/keluarganya apa yang terjadi dan mengapa ibu perlu dibawa kerumah sakit.
11. Jika dicurigai adanya ruptura uteri (his tiba-tiba berhenti atau syok berat),maka rujuk segera. Berikan antibiotika dan cairan IV (Ringer Laktat), biasanya diberikan ampisilin 1 gr IM, diikuti pemberian 500 mg setiap 6 jam secara IM, lalu 500 mg per oral setiap 6 jam setelah bayi lahir.
12. Bila kondisi ibu/bayi buruk dan pembukaan serviks sudah lengkap, maka bantu kelahiran bayi dengan ektraksi vakum (lihat standar 19).
13. Bila keterlambatan terjadi sesudah kepala lahir (distosia bahu):
a) Lakukan episiotomi
b) Dengan ibu dalam posisi berbaring terlentang,minta ibu melipat kedua paha dan menekuk lutut  ke arah dada sedekat mungkin. (Minta dua orang untuk membantu (mungkin suami atau anggota keluarga lainnya) untuk menekan lutut ibu dengan mantap kearah dada. (Manuver Mc Robert)
c) Gunakan sarung tangan DTT/steril.
d) Lakukan tarikan kepala curam ke bawah untuk membantu melahirkan bahu depan. Hindarkan tarikan berlebihan pada kepala karena mungkin akan melukai bayi.
e) Pada saat melakukan tarikan pada kepala, minta seseorang untuk melakukan takanan suprapubis ke bawah untuk membantu kelahiran bahu. Jangan pernah melakukan dorongan pada fundus! Pemberiaan dorongan pada fundus nantinya akan dapat mempengaruhi bahu lebih jauh dan menyebabkan ruptura uteri.
f) Jika bahu tetap tidak lahir.
g) Dengan menggunakan sarung tangan DTT/steril, masukkan satu tangan kedalam vagina.
h) Berikan tekanan pada bahu anterior ke arah sternum bayi untuk mengurangi dimeter bahu.
i) Kemudian jika bahu masih tetap tidak lahir.
j) Masukkan satu tangan ke dalam vagina.
k) Pegang tulang lengan atas yang berada pada posisi posterior, lengan fleksi dibagian siku, tempatkan lengan melintang di dada. Cara ini akan menberikan ruang untuk bahu anterior bergerak di bawah simfisis pubis.
l) Mematah clavicula bahu dilakukan jika semua pilihan lain telah gagal.

14. Isi partograf, kartu ibu, dan catatan kemajuan persalinan dengan lengkap dan menyeluruh. Jika ibu di rujuk ke rumah sakit atau puskesmas kirimkan satu copy partograf ibu dan dokumen lain bersama ibu.

7. PRINSIP DASAR

1. Masalah
a. Fase Laten lebih dari 8 jam.
b. Persalinan telah berlangsung 12 jam atau lebih bayi belum lahir.
c. Dilatasi serviks di kanan gairs waspada pada persalinan fase aktif.

2. Penanganan Umum
a. Nilai secara cepat keadaan umum wanita hamil tersebut termasuk tanda vital dan tingkat hidrasinya. Apakah ada masalah medik lain atau hal-hal yang mengancam jiwanya? Apakah ia kesakitan? Gelisah? Jika ya pertimbangan pemberian analgetik.
b. Tentukan apakah pasien berada dalam persalinan?

3. Tentukan Keadaan Janin
a. Periksa denyut jantung janin selama atau segera sesudah his. Hitung frekuensinya sekurangnya-kurangnya sekali dalam 30 menit selama fase aktif dan tiap 5 menit selama kala II. Jika terdapat gawat janin, lakukan seksio sesarea; kecuali jika syarat-syaratnya dipenuhi, lakukan ekstraksi  vakum atau forceps.
b. Jika ketuban sudah pecah air ketuban kehijau-kehijauan atau bercampur darah, pikirkan kemungkinan gawat janin.
c. Jika tidak ada ketuban yang mengalir setelah selaput ketuban pecah, pertimbangan adanya indikasi penurunan jumlah air ketuban yang mungkin meyebabkan gawat janin.
Perbaiki keadaan umum dengan :
a. Memberikan dukungan emosi. Bila keadaan masih memungkinkan anjurkan bebas bergerak, duduk dengan posisi yang berubah (sesuaikan dengan penanganan persalinan normal).
b. Berikan cairan baik secara oral atau parenteral dan upayakan buang air kecil (hanya perlu kateterisasi bila memang diperlukan).
c.  Bila penderita merasakan nyeri yang sangat berikan analgetik : tramadol atau pethidin 25 mg dinaikkan sampai maksimum 1 mg/kg atau morfin 10 mg IM.
d. Lakukan pemeriksaan vaginal untuk menentukan kala persalinan. Dan Lakukan penilaian frekuensi dan lamanya kontraksi berdasarkan partograf.

8. PENANGANAN
1. False Labor (persalinan palsu/belum in partu)
Bila his belum teratur dan porsio masih tertutup, pasien boleh pulang. Periksa adanya infeksi saluran kencing, ketuban pecah dan bila didapatkan adanya infeksi obati secara adekuat. Bila tidak pasien boleh rawat jalan.

2. Prolonged Latent Phase (fase laten memanjang)
Diagnosis fase laten yang memanjang dibuat secara retrospektif. Bila his berhenti disebut persalinan palsu atau belum in partu. Bilamana kontraksi makin teratur dan pembukaan bertambah sampai 3 cm, pasien kita sebut masuk fase laten.
Kekeliruan melakukan diagnosis persalinan palsu menjadi fase laten menyebabkan pemberian induksi yang tidak perlu yang biasanya sering gagal. Hal ini menyebabkan amnionitis.
Apabila ibu berada dalam fase laten lebih dari 8 jam dan tak ada kemajuan, lakukan pemeriksaan dengan jalan melakukan pemeriksaan serviks :
· Bila tidak ada perubahan penipisan dan pembukaan serviks serta tak didapatkan tanda gawat janin, kaji ulang diagnosisnya. Kemungkinan ibu belum dalam keadaan in partu.
· Bila didapatkan perubahan dalam dalam penipisan dan pembukaan serviks, lakukan drip oksitosin dengan 5 unit dalam 500cc dekstrose (atau NaCl) mulai dengan 8 tetes per menit, setiap kali 30 menit ditambah 4 tetes sampai his adekuat (maksimum 40 tetes/menit) atau diberikan preparat prostaglandin. Lakukan penilaian ulang setiap 4 jam. Bila ibu tidak masuk fase aktif setelah dilakukan pemberian oksitosin, lakukan seksia sesaria.
·  Pada daerah yang pravelensi HIV tingga, dianjurkan memberikan ketuban tetap utuh selama pemberian oksitosin untuk mengurangi kemungkinan terjadinya penularan HIV.
· Bila didapatkan tanda adanya amnionitis, brikan induksi dengan oksitosin 5 U dalam 500cc dekstrose (atau NaCl) mulai mulai dengan 8 tetes per menit, setiap 15 menit ditambah 4 tetes sampai his adekuat (maksimum 40 tetes/menit) atau diberikan preparat prostaglandin; serta obati infeksi dengan ampisilin 2 g IV sebagai dosis awal dan 1 g IV setiap 6 jam gan gentamisin 2 x 80 mg.

3. Prolonged Active Phase (fase aktif yang memanjang)
Bila tidak didapatkan tanda adanya CPD (Cephalo Pelvic Disproportion) atau adanya obstruksi :
· Berikan penanganan umum yang kemungkinan akan memperbaiki kontraksi dan mempercepat kemajuan persalinan.
· Bila ketuban intak, pecahkan ketuban.
Bila kecepatan pembukaan serviks pada waktu fase aktif kurang dari 1 cm per jam, lakukan penilaian kontraksi uterusnya.
4. Tindakan Suportif
a. Selama persalinan, semangat pasien harus didukung. Kita harus membesarkan hatinya dan menghindari kata-kata yang dapat menimbulkan kekhawatiran dalam diri pasien.
b. Intake cairan sedikitnya 2.500 ml per hari. Pada semua partus lama, intake cairan sebanyak ini dipertahankan melalui pemberian infuse larutan glukosa. Dehidrasi, dengan tanda adanya aceton dalam urine, harus dicegah.
c. Makanan yang dimakan dalam proses persalinan tidak akan tercerna dengan baik. Makanan ini akan tertinggal dalam lambung sehingga menimbulkan bahaya muntah dan aspirasi. Karena itu, pada persalianan yang berlangsung lama dipasang infus ungtuk pemberian kalori.
d. Pengosong kandung kemih dan usus harus memadai. Kandung kemih dan rektum yang penuh tidak saja menimbulkan perasaan tidak enak dan merintangi kemajuan persalinan tetapi juga menyebabkan organ tersebut lebih mudah cedera disbanding dalam keadaan kosong.
e. Meskipun wanita yang berada dalam proses persalinan harus diistirahatkan dengan pemberian sedatif dan rasa nyerinya diredakan dengan pemberian analgetik, namun semua preparat ini harus digunakan dengan bijaksana. Narkosis dalam jumlah yang berlebihan dapat mengganggu kontraksi dan membahayakan bayinya.
f. Pemeriksaan rektal atau vaginal harus dikerjakan dengan frekuensi sekecil mungkin. Pemeriksaan ini menyakiti pasien dan meningkatkan resiko infeksi. Setiap pemeriksaan harus dilakukan dengan maksud yang jelas.
g. Apabila hasil-hasil pemeriksaan menunjukkan menunjukkan adanya kemajuan dan kelahiran diperikirakan terjadi dalam jangka waktu yang layak serta tidak terdapat gawat janin ataupun ibu, terapi suportif diberikan dan persalinan.

Tabel 2.2. Ikhtisar Kriteria Diagnostik dan Penatalaksanaan Distosia
Pola Persalinan
Nulipara
Multipara
Terapi di Puskesmas
Terapi di Rumah Sakit
Kelainan Pembukaan Serviks
·         Kemajuan pembukaan (dilatasi) serviks pada fase aktif
·         Kemajuan turunnya bagian terendah


< 1,2 cm/jam



< 1 cm/jam


< 1,5 cm/jam



< 2 cm/jam
R
U
J
U
K
·         Dukungan dan terapi ekspektatif
·         Seksio sesarea bila CPD / obstruksi
Partus Macet
·         Fase deselerasi memanjang
·         Terhentinya pembukaan (dilatasi)
·         Terhentinya penurunan bagian terendah
·         Kegagalan penurunan bagian terendah

>3 jam

>2 jam


>1 jam


Tidak ada penurunan pada fase deselerasi atau kala 2

>1 jam

>2 jam


>1 jam


Tidak ada penurunan pada fase deselerasi atau kala 2
·         Infus oksitosin bila tidak ada kemajuan, lakukan seksio sesarea
·         Sesksio sasarea bila CPD atau obstruksi

9. Prinsip Umum Dalam Merujuk Kasus Gawat Darurat

1.      Stabilisasi Penderita
Dalam memberikan pelayanan kasus gawat darurat yang akan dirujuk, beberpa hal yang harus diperhatikan antara lain yaitu :
· Stabilisasi penderita,
· Pemberian oksigen,
· Pemberian cairan infuse intravena dan transfuse darah, dan
· Pemberian obat-obatan (antibiotika, analgetika, dan toksoid tetanus).
Stabilisasi kondisi penderita dan merujuknya dengan cepat dan tepat sangat penting (esensial) dalam menyelamatkan kasus gawat darurat, tidak peduli jenjang atau tingkat pelayanan kesehatan itu. Kemampuan tempat pelayanan kesehatan untuk dengan segera memperoleh transportasi bagi pasien untuk dirujuk ke jenjang yang lebih tinggi amat menentukan dalam menyelamatkan  kehidupan kasus yang gawat. Tata cara untuk memperoleh transportasi dengan cepat bagi kasus gawat darurat harus ada di setiap tingkat pelayanan kesehatan. Untuk itu dibutuhkan koordinasi dengan sumber-sumber dalam masyarakat seperti kepolisian, militer, dan institusi pemerintah, Dinas Pertanian, mesjid, gereja, jajaran Dinas Kesehatan sendiri, dan lain sebagainya. Apabila memungkinkan, tepat rujukan lebih tinggi harus diberitahu bahwa pasien sedang dalam perjalanan menuju kesitu. Unsur-unsur pokok dalam satabilisasi kondisi penderita untuk dirujuk tercantum dalam Tabel 2.3.

Tabel 2.3: Unsur-unsur pokok dalam resusitasi/persiapan untuk merujuk kasus gawat darurat
·         Penanganan pernafasan dan pembebasan jalan nafas.
·         Kontrol perdarahan
·         Pemberian cairan infuse intravena
·         Kontrol nyeri (mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri).

Prinsip umum dalam merujuk kasus ialah pasien harus didampingi oleh tenaga yang terlatih, sehingga cairan infus intravena dan oksigen dapat terus deberikan. Apabila pasien tidak dapat didampingi oleh tenaga terlatih, maka pendamping harus diberi petunjuk bagaimana menangani cairan intravena dalam perjalanan. Dalam perjalanan ketempat rujukan, pasien harus dijaga agar tetap dalam kondisi hangat dan kakinya harus dalam posisi yang lebih tinggi, khususnya pada kasus syok perdarahan. Gunakanlah selimut dan jangan memakai sumber panas lain oleh karena kulit pasien mungkin dapat terbakar.
Ringkasan kasus harus disertakan yang mencangkup:
· Riwayat penyakit.
· Penilaian kondisi pasien yang dibuat pada saat kasus di terima perujuk.
· Tindakan atau pengobatan yang telah diberikan, misalnya pasien telah mendapatkan antibiotika penisilin pada jam 16.00.
· Keterangan lain yang perlu dan yang ditemukan berkaitan dengan kondisi pasien pada saat pasien masih dalam penanganan perujuk.

2.      Prinsip Umum Pemberian Obat
Dalam memutuskan kapan, apa dan bagaimana menggunakan obat untuk pasien, faktor yang sangat penting yang dipertimbangkan ialah :
·         Keamanan pasien apabila mendapat obat itu
·         Kebutuhan dan
·         Cara pembarian obat
Sebelum memberikan obat harus ditanyakan kepada pasien apakah pasien pernah mengalami alergi terhadap obat tersebut. jangan sekali-kali memberikan obar per oral kepada pasien dalam keadaan syok, oleh karena pasien dapat muntah dan mungkin dapat terjadi aspirasi ke dalam paru-paru. Bagaimana obat itu akan diberikan – apakah intravena, intramuscular, atau per oral – harus sudah diputuskan terlebih dudlu sebelum memilih jenis obat, sebab tidak semua jenis obat dapat diberika melali ketiga cara tersebut.
a.      Intravena (IV)
Pemberian obat intravena dipilih untuk kondisi : syok, setiap kondisi gawat darurat yang mungkin membutuhkan tindakan pembedahan segera, setiap infeksi yang serius termasuk sepsi dan syok septic.

b.      Intramuskular (IM)
Cara pemberian ini dipilih apabila pemberian IV tidak mungkin dilakukan dan apabila obat yang terpilih dapat diberikan menurut cara ini. Beberapa jenis obat tidak dapat diberikan secara intramuskular.
c.       Per Oral
Jangan memberikan obat per oral pada kasus syok, pada kausu dengan cedera intraabdominal, perforasi/rupture uterus, kehamilan ektopik terganggu, atau kondisi serius lainnya yang memerlukan tindakan bedah segera. Pemberian obat per oral hanya dapat diberikan pada kasus yang stabil kondisinya dan mampu menelan obat per oral.

3.      Obat Pengurang Rasa Nyeri
Pada beberapa kasus gawat darurat obstetri, penderita dapat mengalami rasa nyeri yang membutuhkan pengobatan segera. Dalam memilih obat pengurang rasa sakit yang tepat, harus dipertimbangkan kondisi pasien pada saat itu, saat dan cara pemberian obat, dan beberapa hal khusus yang harus diperhatikan diperhatikan untuk setiap jenis obat yang dipilih.














BAB III
PENUTUP

 A. Kesimpulan
           Dari pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa partus lama disebut juga dengan partus kasep dan partus terlantar. Partus lama adalah persalinan yang berlangsung lebih dari 24 jam pada primi, dan lebih dari 18 jam pada multi. Bila persalinan berlangsung lama, dapat menimbulkan komplikasi- komplikasi baik pada terhadap ibu maupun terhadap anak. Dan dapat meningkatkan angka kematian ibu dan anak.
          Adapun gejala dari partus lama ini yang berdampak pada ibu adalah ibu mengalami gelisah, letih, suhu badan meningkat, berkeringat, nadi cepat, dan pernafasan cepat. Di daerah lokal sering dijumpai lingkaran Bandle tinggi, edema vulva ,edema serviks, cairan ketuban berbau, terdapat mekonium. Dan pada bayi adalah denyut jantung janin cepat/ hebat/ tidak teratur, bahkan negatif. Air ketuban terdapat mekonium, kental kehijauan, berbau. Caput sucsadaneum yang besar. Moulage kepala yang hebat, kematian janin dalam kandungan (KJDK) ,Kematian janin intra partal (KJIP).

B. Saran
              Semoga makalah ini di harapkan bermanfaat bagi pembaca dan kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna. Maka dari itu kami mengharapkan kritik dan saran guna membangun dan memperbaikan makalah kami selanjutnya.








DAFTAR PUSTAKA
Karlina, novvi, dkk.2014.asuhan kebidanan kegawatdaruratan maternal dan neonatal.bogor:in media
Lisnawati, lilis.2013.asuhan kebidanan terkini kegawatdaruratan materna dan neonatus.jakarta:cv.trans info media
www.wordpress.com


Komentar